April 22, 2008

Simpul Itu Bernama Mudah-mudahan




Manusia boleh berharap . Tentang apa saja. Tetapi Allah jua yang menentukan dan memberikan. Ini berlaku untuk siapa saja. Betapa pada seluruh pengharapan yang kita upayakan, harus ada ruang yang kita sisakan untuk Allah. Bahwa untuk sebuah keselamatan, kesuksesan, manusia memang harus mengejar jalan kesananya. Tetapi Allah jua yang menentukan.

Hidup memang rangkaian usaha demi usaha, sambungan ikhtiar demi ikhtiar. Tetapi pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tak langsung berhubungan dengan keberhasilan dan kesuksesan. Ada simpul lain yang berbeda, yang menghubungkan dengan keberhasilan itu. Simpul itu adalah kehendak Allah. Simpul yang tidak diketahui oleh manusia. Simpul itu benar-benar wilayah yang sangat gelap bagi kita semua.

Bila pada simpul usaha kita harus melakukan segala sesuatunya dengan baik, profesional, tertib, penuh semangat, maka pada wilayah yang gelap itu hanya ada satu cara untuk menyikapinya, berdo'a, berharap dan bertawakal kepada Allah. Karenanya ruang gelap itu sangat bisa dilihat pada ekspresi jujur setiap orang, bahwa pada setiap ikhtiar yang diusahakannya, mau tidak mau, ia harus menutup kalkulasi optimisnya dengan kata "semoga atau mudah-mudahan". Persis seperti seorang ibu yang melepas anaknya ke ruang ujian. Ia tahu anaknya telah rajin belajar. Tetapi tak urung ia harus tetap mengatakan, " Mudah-mudahan kamu berhasil, nak."

Inilah simpul mudah-mudahan itu. Ia bukan sekedar soal kebergantungan, tapi juga potongan penting dari mozaik prinsip utama aqidah islam. Orang mukmin yang meyakini Tuhannya hanya Allah, juga harus meyakini bahwa Dia pula yang menentukan umur, rezeki, jodoh dan segala ketetapan lain atas dirinya, termasuk datangnya musibah atau kegagalan. Maka ruang gelap itu lantas mempunyai dua fungsi sekaligus, fungsi ekspektasi dan fungsi rekreasi.

Fungsi ekspektasi adalah fungsi dimana manusia pada akhirnya bergantung kepada Allah, mau tidak mau. Dengan kesadaran akan kebergantungan kepada Allah itu, semestinya manusia lantas memilih jalan hidup yang layak, menata segala upayanya lalu memohon kesuksesan kepada Allah.
Adapun fungsi rekreasi, memberi manfaat lain bagi segala ketetapan Allah, setelah ketetapan itu terjadi. Artinya, bahwa seorang mukmin bisa memaknai segala keputusan Allah, dalam bingkai yang bijak, bahwa dibalik itu, semuanya pasti ada hikmahnya. Bila keputusan itu berupa musibah, ia bisa berharap akan ampunan-Nya. Atau setidaknya, ia bisa menabungnya untuk hari akhirat kelak.
Maka seperti juga Urwah, pada seluruh keputusan Allah yang menimpa dirinya, ia mencoba mencari makna lain, makna rekreatif itu. Segalanya tergambar indah, saat ia melantunkan do'a khusu'nya "Ya Allah, dahulu aku mempunyai empat galah (dua kaki dan dua tangan) lalu Engkau ambil satu. Dan Engkau sisakan tiga. Maka segala puji bagi Engkau. Demi Allah, tidaklah Engkau mengambil, kecuali Engkau pasti juga menyisakan. Maka tak apalah Engkau mengujiku, selama Engkau memaafkan aku".

Taken From Tarbawi

Tidak ada komentar: