April 28, 2008

Di Dekat Batu itu Ada Kematian


Lelaki itu telah menjadi seorang ayah. Beberapa anak telah lahir dari rahim istrinya. Dia pun sibuk mengatur rumah tangganya, mencari nafkah, serta mengurus istri dan anak-anaknya. Meski sangat sibuk, ia bisa melakukan semuanya, tanpa beban. Namun satu hal yang setiap hari membuatnya emosi, kesal dan marah-marah; Ayahnya. Ya, ayahnya. Pasalnya, laki-laki yang telah menjadi sebab hadirnya ia di dunia itu, kini telah baerusia senja. Tua renta. Terkadang pula sakit-sakitan. Bagi si lelaki, ayahnya sudah tak bisa memberikan manfaat apa-apa selain merepotkan.

Kian hari rasa kesalnya kepada ayahnya kian bertambah. Ia merasa sudah tak kuat lagi melayani dan berbakti kepada ayahnya itu. Kesabarannya menghadapi si ayah yang kian lemah itu nyaris lenyap ditelan emosi yang selalu memuncak tiap kali menatapnya. Sepertinya sudah tak ada lagi sesuatu yang positif dari kehadiran ayahnya di tengah keluarganya.

Suatu hari, ia pun membawa ayahnya keluar menuju padang pasir untuk maksud yang mungkin tak pernah terkirakan, mengakhiri hidupnya. Sang ayah yang melihat sikap aneh anaknya bertanya, "Wahai anakku, apa yang kamu inginkan dariku?". Anak lelakinya menjawab, "Aku akan membunuhmu" . Anehnya, mendengar anaknya berkata demikian, tak sedikit pun rona kaget tergambar di wajah si ayah. Ia bahkan berkata, "Nak, jika kamu bersikeras ingin membunuhku, maka lakukanlah di samping batu itu" sambil menunjuk ke sebuah batu yang seperti sudah dikenalinya. "Sebelum dirimu, duu aku pun pernah durhaka kepada ayahku, dan aku membunuhnya di dekat batu itu. dan ingatlah wahai anakku, kelak kamu juga akan seperti itu, dibunuh pada batu itu oleh anakmu sendiri" ujar si ayah mengingatkan.

Sebuah kisah tragis yang dicuplik dari kitab Al jaza' min Jinsil Amal di atas , sungguh mengguncang. Di batu itu ada kematian demi kematian. Perlakuan anak kepada orang tuanya. Kemudian anaknya memperlakukan hal yang sama seperti yang pernah ia lakukan terhadap ayahnya. Sebagaimana ia kemudian juga menyumpahi dan mendoakan anaknya bahwa kelak ia pun akan dibunuh anaknya.

Memang tidak semua derita di hari tua seluruhnya karena buah dari perilaku kita di masa muda terhadap orang tua. Tapi didekat batu itu, dimana kematian diperkuat dengan do'a keliru, harapan buruk dan keinginan karma yang hendak "dilestarikan" untuk anaknya. Disini kita belajar tentang arti menjadi muda. Bahwa menjadi muda bukan berarti bisa semena-mena merendahkan yang lansia, terlebih bila mereka adalah orang tua kita.

Berbeda dengan kisah seorang Tabi'in bernama Uwais Al Qarni. Pemuda dari Yaman itu sejak kecil telah menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali ibunya yang telah renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Namun Uwais tetap merawat ibunya. Pagi sore ia mandikan. Siang malam ia sediakan makannya. Ia cucikan pakainnya. Tiap hari bekerja sebagai penggembala kambing untuk mencukupi kehidupan ibunya. Meski upah yang diterimanya hanya cukup menopang kesehariannya bersama sang ibu yang sudah cukup tak bertenaga.

Kesabaran dan kesetiaan Uwais merawat si ibu yang sangat renta itu, menjadikannya begitu dikagumi oleh Rasulullah saw dan para malaikat di langit sana. Bahkan Rasulullah saw sering berpesan kepada para sahabatnya,kelak jika berjumpa dengan Uwais jangan lupa minta didoakan olehnya, karena do'anya yang mustajab di sisi Allah. Prestasi kemuliaan yang demikian istimewa.

Dua kisah di atas mungkin biasa dihadirkan sebagai contoh perilaku anak kepada orang tuanya, antara yang durhaka dan yang berbakti. Namun sesunguhnya, persoalannya bukan sebatas hubungan antara anak dan orang tua. Sebab, pilihan durhaka atau berbakti tidak hanya pada orang tua yang telah lanjut usia. Akan tetapi di sini ada hal lain yaitu bagaimana kita berinteraksi atau bermualah dengan orang-orang yang telah berusia lanjut . Sebab menjadi pelayan dan sahabat mereka memang membutuhkan kesabaran berlipat dari sekedar bergaul dengan orang tua yang belum mencapai usia itu.

Taken from Tarbawi

Tidak ada komentar: