April 22, 2008

Ketika Kehendak Allah Tak Dapat Kita Pahami


Namanya Urwah bin Zubair. Cucu khalifah pertama ini adalah sosok yang mempunyai banyak keunggulan. Ia merupakan tokoh penting di jaman Tabi'in, generasi terbaik setelah masa kenabian.
Sepanjang hidupnya Urwah selalu memadukan antara ilmu dan munajat kepada Allah. Tak berlebihan, bila kemudian dijamannya ia menjadi satu dari tujuh pilar pakar fikih di Madinah. Munajat dan ibadahnya begitu kuat. Ia selalu bangun malam untuk menghadap Allah. Orang-orang yang hidup dimasanya begitu mengenal Urwah. Bagaimana tidak, orang dikala itu sangat tahu bahwa Urwah memang ahli ilmu, ahli ibadah dan ahli puasa.

Seperti juga lazimnya orang tua, Urwah berharap anak-anaknya kelak bisa melanjutkan tradisi ilmu dan ibadahnya. Terlebih anaknya yang pertama, Muhammad bin Urwah. Ia bahkan ingin anak-anaknya kelak bisa menjadi orang penting di masyarakat, lantaran ilmu yang bermanfaat. Harapan itu tentu tidak berdasarkan pada nafsu gila ketokohan. Tapi ketokohan berbasiskan ilmu dan keahlian.

Urwah, sesosok lelaki mulia itu merangkai harapan-harapannya. Tetapi Allah jua yang menentukan. Disuatu hari yang kering, Urwah datang ke tempat wali kota Madinah, Walid bin Abdul Malik. Tak lupa, anak tertuanya, Muhammad bin Urwah, turut serta dibawanya. Entah mengapa, anak yang belum lagi dewasa itu masuk ke kandang kuda. Anak itu ditendang binatang berkaki empat itu hingga menemui ajalnya. Tak urung Urwah begitu kehilangan atas kepergian anaknya. Meski ia sangat mengerti bagaimana harus bersikap.

Begitupun, pada saat yang bersamaan, ujian lain yang tak kalah besarnya juga datang menimpa dirinya. Kaki sebelah Urwah terserang penyakit ganas. Penyakit yang terus menjalar itu sungguh menyiksa. Tak ada jalan lain kecuali harus dipotong. Mulanya Urwah tak mau kakinya dipotong. Akhirnya di suatu siang yang melelahkan, Urwah yang tengah berpuasa harus merelakan kakinya untuk dipotong. Kawannya, Maslamah bin Muharib, yang melakukan proses amputasi dengan cara yang sangat apa adanya saat itu.

Inilah kisah tragis tentang sebuah harapan yang pupus oleh ketetapan Allah. Kehilangan anak yang kelak diharapkan menjadi orang penting. Juga kehilangan kaki dalam prosesi yang sangat tak terperikan. Kendati begitu Urwah tetaplah Urwah, dengan segudang kemuliaan jiwa dan kebesaran kepribadiannya. Cukuplah sebagai bukti bahwa ia tak pernah meninggalkan shalat malam, kecuali pada malam ketika kakinya baru saja dipotong itu.

Taken From Tarbawi

Tidak ada komentar: