April 29, 2008

Maaf Ibu, Kali Ini Aku Tidak Mentaatimu




" Aku orang yang sangat berbakti pada ibuku" kata Saad bin Abi Waqqas. Saad memang dikenal sebagai orang yang sangat hormat dan taat pada ibunya. Hubungan antara ibu dan anak ini membuat banyak orang iri. Sangat harmonis. Penuh kasih sayang.

Hingga suatu hari, Mekkah menjadi saksi keislaman Saad. Ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan segera mengetahui keislaman putranya yang dikasihinya itu. Dari sinilah munculnya persoalan. Sang ibu tidak menyetujui perubahan pada anaknya. Ibuya tetap menginginkan Saad pada keyakinan nenek moyangnya.

Sebagai usaha agar Saad mau mengurungkan niatnya, ibunya mengancam, "Kamu tinggalkan agamamu itu atau aku tidak makan dan tidak minum hingga aku mati dan kamu akan dihina manusia sebagai pembunuh ibunya sendiri ".

Pagi itu ibunya benar-benar tidak makan. Hingga malam tiba, tidak sebutir gandum dan setetes air pun yang masuk ke tubuhnya. Saad hanya diam. Pagi hari kedua, ibunya tetap bersiteguh tidak mau makan dan minum. Kondisinya semakin lemah. Malam itu, Saad yang menyaksikan ibunya yang tidak memiliki tenaga, masih tetap diam. Memasuki hari ketiga, ibunya tidak main-main. Dia tetap tidak mau menyentuh makanan dan minuman.

Barulah pada hari berikutnya, Saad menunjukkan sikapnya, "Ibunda, kalu ibu mempunyai seratus nyawa dan nyawa ibu keluar satu persatu,sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku ini. Adapun jika ibu mau, makanlah dan jika ibu lebih memilih tidak mau makan maka silahkan." Melihat kesungguhan Saad, ibunya yang sudah tidak berdaya itu akhirnya mau makan.

Saad, sahabat yang memiliki fisik kuat sehingga mampu beribadah tanpa putus itu, juga mempunyai jiwa teguh dan mampu mengedepankan akal sehatnya. Ia berhasil meletakkan makna cinta dan taat pada ruang yang benar. Bila cinta dan ketaatan kita letakkan diluar ruang itu, akan hilang diterkam kesesatan. Salah meletakkannya berarti membuka peluang untuk datangnya kerugian.

Karena orang tua yang memiliki kedudukan setelah Allah dan Rasul-Nya, tetap manusia. Yang tidak boleh diangkat lebih tinggi dari tempatnya. Yang tidak mungkin berubah menjadi Tuhan yang bisa memaksakan kehendaknya yang keliru. Karenanya jika perintah orang tua sudah menyimpang dari ajaran islam, maka kita tidak boleh menurutinya.

Dari peristiwa Saad inilah kemudian turun ayat, " Dan Kami wajibkan manusia berbuat kebaikan kepada ibu bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatau yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya...............(Al Ankabut :8)

Disinilah letak keadilan islam. Ketika ibadah pada Allah tidak boleh diganggu, tetapi hak orang tua tidak hilang seketika itu. Walau apa yang mereka minta itu sesuatu kesalahan besar, namun orang tua tetap mempunyai kedudukan khusus. Maka tetap saja, dalam soal mu'amalah, Allah berfirman, " Pergaulillah keduanya di dunia dengan baik. " (Luqman : 15)

Taken from Tarbawi

Tidak ada komentar: