April 28, 2008

Jangan Mau Dijajah Diri Sendiri




Sepotong dosa dan kesalahan adalah penjajah. Sebab sebuah dosa adalah segel di atas catatan malaikat. Mengikat abadi. Membuat kita tidak leluasa. Dosa demi dosa adalah deposit untuk sebuah keputusan pengadilan, kelak di akhirat. Kecuali bila kita bertaubat dan Allah mengampuninya. Rumusan tentang penjajahan oleh diri sendiri dimulai dari rasa bersalah. Legalitas tindakan dan perbuatan kita di mata hukum akan memberi penilaian benar atau salah. Orang salah selalu tidak bisa tenang, itu prinsip dasarnya. Itu sebabnya, Rasulullah menyebutkan dalam hadistnya, " Barang siapa yang amal baiknya membuat hatinya senang dan amal buruknya membuat dirinya sedih, maka dia itu adalah seorang muslim".

Maka segala keputusan untuk memilih salah, berdosa dalam segala bentuknya adalah keputusan untuk menjajah diri sendiri dengan model penjajahan yang sangat aneh. Sebab menjajah diri sendiri pada umumnya membiarkan diri hanyut dibawa hawa nafsu. Sementara sisi-sisi tertentu dari tabiat kita memang menyukai hawa nafsu itu. Maka penjajahan atas diri sendiri pun tampak luarnya terasa menyenangkan, happy, melambungkan perasaan kebebasan atas nama hak asasi. Padahal sejatinya itu semua membelengu. Kebebasan yang merusak, bahkan dengan pembenar-pembenar keyakinan yang keliru.

Peluang penjajahan atas diri sendiri, oleh diri sendiri justru berawal dari kemerdekaan yang kita punya. Dan disitulah rumitnya ujian hidup kita. Kita merdeka, bebas memilih, menjadi orang baik atau orang jahat. Tapi, kemerdekaanya itu sendiri tidak salah. Allah telah mengilhamkan kepada setiap jiwa, jalan kefajiran dan jalan ketakwaan. Pilihan untuk mengambil jalan keburukan, itulah kesalahannya.

Dalam kajian rohani, dosa akan mengotori hati, menumpulkan perasaan, memandulkan kepekaan, menghalangi kita untuk bisa merasakan indahnya kebersamaan bersama Allah. Dosa akan membekaskan di dalam hati kita debu-debu hitam, setitik demi setitik. Setelah itu bila terus berlanjut, hati akan mengeras dan membatu, sementara warna hitamnya semakin kelam. Dan saat itu " Tidak ada jalan bagi kekufuran untuk meninggalkan hati itu, dan tidak ada jalan bagi iman untuk memasuki hati itu " begitu kata Rasulullah.

Tidak ada penderitaan melebihi pahitnya dijajah diri sendiri. terlebih bagi orang-orang yang tidak menyadari. Orang yang tidak menyadari kenyataan bahwa dosa, kesalahan, jalan hidup kotor, kemalasan adalah penjajahan atas diri sendiri, akan mengalami situasi dimana jiwanya terasa kering dan gersang. Mungkin ia bisa menghibur diri dengan nyanyian bahagia, atau mimpi-mimpi duniawi yang megah. Tapi sejatinya itu tidak menghapus kegalauan. Seperti tangga keimanan yang menapak naik, dosa dan kesalahan pun punya tangga menurunnya. Semakin besar dosa itu, maka semakin menghujam pula ke bawah jurang kehinaan. Maka perbedaan antara dosa besar dan dosa kecil, tidak semata karena jenis dan bentuknya, tetapi juga karena efek kerusakan yang ditimbulkannya.

Dibatas ini kesadaran punya peran besar dalam mengantarkan kita menjadi manusia merdeka. Ya, kesadaran. Pengakuan paling mendasar dari nurani dan suara hati. Orang-orang beriman bukan berarti tidak pernah salah, atau tak akan berbuat dosa. Bukan. Mereka pernah salah, pernah berdosa, tapi kesadaran yang selalu dijaga nyawa dan nyalanya, telah membuat orang mukmin punya sistim recovery yang handal. Allah mengabarkan, " Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat Allah, maka seketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya" (QS.Al A'raf : 20).

Ingat dan sadar. Itu menjadi kunci kemerdekaan jiwa. Sebaliknya, penjajahan atas diri sendiri dengan segala bentuk dosa, bergelimang hawa nafsu, arogansi, kesewenang-wenangan atau juga penindasan, akan semakin leluasa mendapat tempat, manakala kita tidak punya banyak kesempatan untuk ingat. Itu rahasianya mengapa orang-orang yang tidak peduli pada jalan kebaikan, akan selalu menghindar dari suasana sepi. Bila tidur harus diantar oleh dentuman musik. Pulang kerja mencari pelarian ke tempat-tempat ramai, heboh dan penuh guncangan-guncangan nafsu. Sebab, sejenak saja ia punya saat-saat sepi dan sendiri, hati nuraninya akan berontak.

Sebaliknya orang-orang mukmin adalah orang-orang yang merdeka sesungguhnya. Bahkan, kisah seorang Bilal bin Rabah adalah kisah tentang kemerdekaan sejati. Perlawanannya terhadap tuannya bukan soal rasialisme. Setidaknya, dimasa itu dimana perbudakan masih sah. Toh keislamannya tidak menggugurkan hak tuannya dalam soal perbudakkan. Maka perlawanannya adalah perlawanan terhadap segala yang telah mejajahnya yaitu kekufuran dan kemusrikan. Begitu pun kisah Ka'ab bin Malik adalah kisah tentang kemerdekaan sejati. Lelaki yang tertinggal di perang Tabuk, itu benar-benar memilih jalan pembebasan. Pembebasan dari kemunafikan dan tentu saja dari azab Allah yang mengerikan.

Pemisah antara merdeka dan terjajah sangatlah tipis. Pemisahnya ada pada hati kita sendiri. Saat kita memutuskan untuk memilih antara berdosa atau beramal shalih, antara meniti jalan kebaikan atau tenggelam dalam kekufuran. Antara menyerahkan penghambaan kepada Allah atau kepada hawa nafsu. Kemerdekaa sejati adalah kemerdekaan iman. Tak ada yang lebih meredeka dari orang yang beriman. Sebab ia tidak merasa memiliki penjajah. Tidak juga orang lain. Maka kemerdekaan atas iman pun memberi seorang mukmin keberanian yang luar biasa.Ia tidak takut kepada siapapun. Ia bahkan tidak peduli dengan caci maki, bila memang apa yang dilakukannya benar.
Nah, masihkah kita dijajah oleh diri sendiri?.
Taken From Tarbawi

Tidak ada komentar: